Sunday, July 21, 2019

Sequis Life Your Better Tomorrow - Asuransi Jiwa, Kesehatan dan Pendidikan Untuk Generasi Milenial



Sequis Life Your Better Tomorrow | www.viralterbaru.com - Asuransi Jiwa, Kesehatan dan Pendidikan yang Tepat Untuk Generasi Milenial.


Sub Menu   [Tutup/Buka]

Pengalaman Pribadi Menjadi Orang Tua di Era Milenial


  17 Agustus 2015 adalah salah satu hari bersejarah dalam keluarga kami, keluarga kecil yang belum lama dipersatukan dalam ikatan pernikahan 10 bulan sebelumnya, Oktober 2014.

  Tepat pukul 11.55 WIB di hari Senin, 17 Agustus 2015 terdengar suara tangis bayi dari kamar bersalin di sebuah Klinik. Bayi mungil kemerah-merahan itu berjenis kelamin laki-laki. Kelahiran anak pertama ini adalah do'a dan harapan kami yang dikabulkan oleh Tuhan YME. Puji dan syukur karena tidak lama setelah menikah kami beruntung langsung diberikan kepercayaan oleh Tuhan YME berupa amanat anak laki-laki yang tampan, lucu dan menggemaskan.

  Hadiah pernikahan dari Tuhan YME berupa kelahiran anak pertama kami ini berbarengan dengan peringatan peristiwa paling bersejarah sepanjang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Indonesia yang ke-70.

  Perasaan senang, bahagia, dan haru mewarnai kehadiran keluarga baru kami. Kami tidak henti-hentinya bersyukur atas anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan YME kepada kami.

  Tapi ada sedikit cerita sedih dibalik kebahagiaan kami. Kami akan ceritakan sedikit tentang sebuah pengalaman berharga saat proses persalinan anak pertama kala itu. Kami yang memang masih relatif baru menjadi suami-istri dan belum berpengalaman dalam mempersiapkan proses persalinan, akhirnya "kena batunya" akibat kurang maksimal dalam persiapan menyambut kelahiran sang bayi meskipun sejak jauh-jauh hari orang tua kami sudah sering mengingatkan.

  Waktu itu saya bingung dan panik. Kebingungan dan kepanikan saya sebagai calon Ayah saat itu adalah ketika saya tidak memiliki simpanan uang lebih untuk proses persalinan anak pertama kami yang ternyata harus dilakukan upaya medis berupa tindakan vakum agar bayi kami bisa segera lahir ke dunia.

  Tindakan vakum direkomendasikan oleh bidan mengingat kondisi istri saya sudah mengkhawatirkan jika harus terus "dipaksa" mengeluarkan bayinya secara normal. Persoalannya adalah biaya tindakan vakum oleh dokter membuat saya bingung dan panik karena uang yang kami miliki saat itu tidak mencukupi.

  Biaya upaya medis berupa tindakan vakum ± 4 tahun yang lalu memang hanya Rp. 4.000.000,- tapi karena kami salah perhitungan, dan lebih mementingkan berbelanja kebutuhan bayi, alokasi dana persalinan yang kami siapkan cuma Rp. 2.000.000 saja, tanpa punya cadangan uang apalagi asuransi.

  Alhasil kami harus kembali merepotkan orang tua dengan meminjam uang dari mereka untuk biaya vakum. Meskipun mereka tidak menganggap sebagai utang (ikhlas membantu anak dan cucu), tapi tetap saya kembalikan beberapa bulan kemudian karena sebagai anak saya merasa malu sudah terlalu sering merepotkan orang tua.

Hikmah


Tidak ada kepastian tentang hari esok akan sesuai dengan rencana kita. Kita harus mempersiapkan hari esok (masa depan) dengan matang dan punya berbagai alternatif pemecahan masalah tanpa melibatkan (apalagi sampai merepotkan) keluarga dan orang lain.

  Sedikit kisah nyata diatas yang saya tulis di artikel ini besar harapan bisa menjadi pembelajaran untuk kami dan kita semua, terutama untuk pasangan keluarga yang sebentar lagi akan melakukan persalinan, agar berkaca dari pengalaman kami melewati proses persalinan sang buah hati untuk bisa lebih mempersiapkan segala sesuatunya seperti mental dan biaya.

  Tidak terasa sekarang sudah ± 1 bulan lagi anak kami akan genap berusia 4 tahun pada 17 Agustus 2019 sekaligus bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Indonesia yang ke-74. Kami senantiasa berdo'a kepada Tuhan YME memohon segala yang terbaik untuk anak kami.

Kehadiran anak pertama, motivasi untuk bisa life better tomorrow

  Semenjak kehadiran buah hati, saya dan istri (kami) menyadari harus membuat komitmen untuk belajar dari pengalaman, bersikap lebih dewasa, bijaksana, bertanggung-jawab, bekerja cerdas, memiliki bekal menjalani sisa hidup di hari tua dan punya tabungan untuk masa depan anak.

  Sebagai orang tua, tentu saja kami ingin kehidupan anak-anak kami kelak bisa lebih baik (life better tomorrow). Jika saya sebagai Ayahnya hanyalah buruh di perusahaan swasta, saya ingin anak-anak saya bisa mandiri menjadi pengusaha sukses, aaamiiin..

  Untuk mewujudkan cita-cita luhur nan mulia ini, saya harus mempersiapkan kebutuhan tumbuh kembang dan masa depan anak kami mulai dari sekarang berupa :

Nutrisi
  Agar anak tumbuh dan berkembang dengan optimal, kami harus menyediakan asupan nutrisi yang cukup.

Asuransi Jiwa
  Agar kelak ketika saya meninggal, anak dan istri yang ditinggalkan memiliki bekal untuk melanjutkan kehidupan. Jangan sampai jika saya sebagai tulang punggung keluarga sudah tidak ada, anak dan istri kelabakan untuk membiayai kebutuhan hidup.

Asuransi Kesehatan
  Agar ketika saya, istri dan anak sedang sakit, tidak kelimpungan memikirkan biaya untuk berobat. Apalagi jika sakit yang di derita memerlukan penanganan rawat inap. Keunggulan punya asuransi kesehatan adalah tinggal ajukan klaim, beberapa saat kemudian pembayaran beres.

Asuransi Pendidikan
  Agar kita memiliki simpanan dana khusus untuk biaya sekolah anak-anak sampai ke jenjang perguruan tinggi. Jangan sampai tradisi jual perhiasan (aset) saat anak mau masuk sekolah terjadi pada kita.

Investasi
  Agar kelebihan gaji dari anggaran membeli kebutuhan pokok sehari-hari bisa menghasilkan manfaat di kemudian hari. Investasi juga bisa bermanfaat untuk mengatasi inflasi yang mengakibatkan nilai mata uang turun.

  Tidak terasa, sejak saya bekerja, usia masa kerja saya telah mencapai 6 tahun. Selama saya bekerja 6 tahun, seharusnya saya sudah memiliki aset berupa tanah, rumah, kendaraan, bisnis (investasi) dan tabungan yang cukup untuk mempersiapkan bekal masa tua termasuk tabungan pendidikan untuk anak. Tapi, saya belum memiliki semua itu, dan itu jelas sebuah kesalahan.

  Sebagai orang tua baru di era milenial, seperti orang tua kebanyakan pada umumnya, kesalahan kami sebelumnya adalah sering bersikap acuh dan skeptis dengan perencanaan hari esok. Bahasa gaulnya, "bagaimana nanti sajalah", padahal yang semestinya, "nanti bagaimana"?

  Mindset "bagaimana nanti" tercipta akibat rasa nyaman berada di zona aman. Padahal, risiko bisa datang kapan saja menimpa siapapun tanpa pemberitahuan. Untuk itulah diperlukan perubahan pola pikir, dari "bagaimana nanti", menjadi "nanti bagaimana?".

Sekedar cerita pengalaman saat masih hidup bujangan di jalanan, sebelum saya bekerja di sektor formal seperti sampai saat ini, ketika itu saat saya masih berjualan asongan di kereta api lokal Bandung (Cicalengka - Padalarang) medio 2009-2013, saya termasuk tipe orang yang berprinsip "nanti bagaimana?".


Pada masa itu saya selalu memaksakan diri menyisihkan uang Rp. 100.000 - Rp. 400.000 per bulan hasil dari berjualan asongan di kereta untuk diinvestasikan dalam bentuk reksadana pasar uang dan deposito.

Tujuan saya menyisihkan "receh" Rp. 100.000 - Rp. 400.000 per bulan yang diinvestasikan dalam bentuk reksadana pasar uang dan deposito adalah untuk mendapatkan manfaat di hari tua.

Kepesertaan saya hanya berjalan efektif selama 2 tahun. Saya mulai sering melakukan pengambilan dana investasi yang saya investasikan sebelumnya akibat tidak memiliki penghasilan lagi setelah saya dan teman-teman pedagang asong tidak bisa lagi berjualan di dalam kereta api.

Entah mengapa sejak saat itu saya belum terpikirkan kembali untuk berinvestasi. Padahal sejak bekerja di sektor formal, dari gaji setiap bulan yang saya terima, saya relatif punya cukup banyak uang lebih yang seringkali tidak berbekas dan tidak jelas rimbanya.

Setelah saya renungkan, ternyata gaya hidup saya berubah drastis sehingga tidak bisa mengontrol keuangan. Gara-gara gaya hidup, saya sering berpikir "bagaimana nanti". Toh, saya merasa saya masih kerja, akan tetap bekerja di tempat ini, dan punya penghasilan tetap dengan mudah. Ironinya, saya terlena dengan zona nyaman ini sampai sekarang.

Mindset "bagaimana nanti" dan "nanti bagaimana?" ternyata bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pengetahuan, tingkat pendidikan, keadaan dan lingkungan.

  Berikut adalah 4 dampak dari pola pikir "bagaimana nanti" yang perlu diketahui oleh generasi milenial untuk dihindari :

1. Labil
  Lupa dengan cita-cita awal, sehingga mudah tergiur dengan promo dan diskon menarik dari marketing yang memasarkan produk-produk sekunder (belum terlalu mendesak untuk dibeli) dan tersier (barang mewah).

2. Boros
  Lebih mudah mengeluarkan uang untuk foya-foya seperti beli kuota internet, voucher game online, nongkrong, pesta dan bayarin teman-teman makan (traktir) seolah-olah akan selamanya mudah mendapatkan uang.

3. Utang
  Coba-coba ngutang untuk kebutuhan konsumtif seperti produk sekunder dan tersier meskipun gaji pas-pasan hanya cukup untuk biaya hidup atau bahkan tidak memiliki penghasilan sama sekali. Mudah tergiur ngutang meskipun barang yang dikredit tidak begitu penting atau hanya untuk gaya-gayaan dan gengsi.

4. Tidak punya apa-apa
  Jangankan aset berupa produk investasi, kendaraan dan rumah, tabungan saja tidak punya karena pendapatan berbanding lurus dengan pengeluaran akibat tidak adanya perencanaan keuangan.

"Bagaimana nanti" adalah mindset populer yang dianggap sebagai sindrom orang gagal. Kecenderungan orang yang memiliki mindset "bagaimana nanti" biasanya menggampangkan segala sesuatu, seolah menganggap remeh, dan tidak memiliki arah tujuan hidup yang jelas.


Kebalikannya, mindset "nanti bagaimana?" adalah cara pandang yang dianggap kuno meskipun menjadi pijakan orang-orang sukses yang progresif, bijak, dewasa, berpikiran maju jauh kedepan dan memiliki target hidup yang jelas. Kecenderungan orang yang memiliki mindset "nanti bagaimana?" biasanya penuh kehati-hatian, teliti, dan cermat dalam bertindak.

  Kita harus sadari bahwa dewasa ini probabilitas terkena risiko semakin tinggi, seperti risiko mengalami cedera, risiko kecelakaan kerja, sakit, pemutusan hubungan kerja (PHK), bisnis gagal, sampai kehancuran ekonomi.

  Untuk itu diperlukan wawasan dan implementasi manajemen risiko yang terencana, terstruktur, dan terarah agar bisa mengantisipasi, meminimalisir dan mendapatkan proteksi (perlindungan) dari risiko yang terjadi.

Wawasan tentang risiko dalam hidup

  Risiko adalah suatu keadaan sebagai akibat (konsekuensi) dari kejadian yang disadari atau tidak sebelumnya. Dalam dunia asuransi, risiko berarti kerugian akibat ketidakpastian atau adanya suatu kejadian yang tidak diinginkan.

  Setiap manusia pasti berpotensi terkena risiko apapun latar belakang, profesi, dan kedudukannya. Misalnya risiko terserang pen yakit, setiap manusia pasti berisiko terkena penyakit, meskipun latar belakang pribadi, keluarga, dan lingkungannya sehat.

  Penyakit bisa datang darimana saja dan bisa menghinggapi siapa saja, apapun kedudukannya di masyarakat, mau itu penyandang status si kaya, si miskin, pejabat, rakyat biasa, tenaga medis, dll.

  Sengaja saya beri contoh penyakit karena korelasi sebab-akibatnya sangat kompleks. Sebab dalam keadaan sakit, berakibat kita tidak bisa produktif dalam segala hal. Seperti tidak bisa masuk sekolah untuk belajar, tidak bisa masuk kerja untuk bekerja, dll. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, maka, sudah sakit, tidak bisa memperkaya ilmu dan harta.

Prioritaskan Kesehatan dan Pendidikan


  Bagi saya, pendidikan dan kesehatan sangat penting. Jika tidak sehat, bagaimana mungkin bisa produktif dalam beraktifitas? Demikian juga jika tidak mendapatkan pendidikan yang baik, bagaimana mungkin bisa tahu cara hidup sehat, cara bekerja yang sehat dan cara berbisnis yang sehat (mampu kompetitif dalam berkompetisi dengan kompetitor di dunia usaha)?

  Dengan mengenyam pendidikan, kita bisa mengetahui cara hidup sehat dalam ilmu kesehatan. Manfaat tahu cara hidup sehat adalah memiliki badan yang sehat. Dengan badan yang sehat, kita bisa menuntut ilmu dengan baik. Jadi, kesehatan dan pendidikan saling melengkapi satu sama lain.

  Apalagi sekarang kita menghadapi era revolusi industri 4.0, era dimana kita dituntut untuk lebih produktif dengan memiliki fisik prima (sehat) dan memiliki skill (kompetensi) lebih jika tidak ingin tergeser oleh kecanggihan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

  Dalam APBN Indonesia dari tahun ke tahun, khususnya 5 tahun terakhir, berdasarkan data yang saya kutip dari kemenkeu.go.id/apbn2019, anggaran dana untuk sektor pendidikan dan kesehatan dominan naik. Artinya, pembangunan SDM Indonesia selalu menjadi perhatian dan mendapatkan prioritas utama.

sumber : kemenkeu.go.id
Tahun Pendidikan Kesehatan
2015 Rp. 409,1 T Rp. 65,9 T
2016 Rp. 419,2 T Rp. 92,3 T
2017 Rp. 416,1 T Rp. 104,9 T
2018 Rp. 444,1 T Rp. 111 T
2019 Rp. 492,5 T Rp. 123,1 T

  Meskipun negara hadir untuk rakyatnya dengan menyediakan anggaran yang besar, tapi mengingat luasnya wilayah dan tingginya jumlah penduduk Indonesia (berada di posisi 4 besar dunia), anggaran yang terlihat besar tadi tentu saja masih sangat kurang dari kata ideal. Suka atau tidak, kita harus sepakat, bahwa anggaran diatas harus sampai kepada yang benar-benar berhak menerimanya (masyarakat kurang mampu).

sumber : Wikipedia, data : Juli 2019
Negara Luas (Km2) Jumlah Penduduk
Tiongkok 9.596.961 1.397.890.000
India 3.287.590 1.345.370.000
Amerika 9.826.675 331.332.000
Indonesia 1.910.931 268.074.600

  Oleh karena itu saya mengajak pembaca, khususnya masyarakat berpenghasilan menengah keatas, untuk membantu Pemerintah dengan memiliki jaminan perlindungan (proteksi asuransi) sendiri. Kita harus berinisiatif untuk mandiri dalam menjalani kehidupan kita. Apalagi yang menyangkut kepentingan pribadi seperti pemenuhan kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan.

  Percayakan jaminan perlindungan diri yang maksimal pelayanannya dengan memilih produk proteksi yang ditawarkan perusahaan swasta. Jaminan perlindungan yang dikelola oleh swasta memiliki keunggulan berupa senantiasa berupaya selalu memberikan layanan yang terbaik kepada konsumennya mengingat kompetisi di bidang layanan asuransi ini sangat banyak dan berat kompetitornya.

  Untuk memiliki jaminan perlindungan sendiri berarti memerlukan perencanaan keuangan (financial planning) yang tepat bersama konsultan spesialis. Jika salah memilih konsultan, sangat berisiko mengalami kekecewaan dikemudian hari.

Kenali Manajemen Risiko dan Implementasinya

  Risiko yang suatu saat pasti datang menghampiri kita perlu diperlakukan dengan manajemen risiko agar risiko yang terjadi bisa ditangani dengan baik.

Terencana
  Rencanakan skema penanggulangan risiko agar ketika risiko terjadi sudah memiliki perlindungan.

Terstruktur dan Sistematis
  Serahkan manajemen risiko kepada pihak yang profesional dan berpengalaman dalam menangani risiko, seperti perusahaan asuransi.

  Berbicara perusahaan asuransi, dengan mudah kita temui berbagai macam penawaran menarik dari para insurance marketing. Tapi soal tarif dan kualitas pelayanan, menjatuhkan pilihan ke Sequis adalah langkah yang tepat.

Sequis, Pilihan Tepat Asuransi Jiwa, Kesehatan, Pendidikan dan Investasi




Produk unggulan Sequis adalah Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa dan Investasi Reksadana.

  Mengapa Sequis adalah pilihan paling tepat untuk pelayanan asuransi jiwa, kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat Indonesia? Karena Sequis memenuhi semua kriteria pada tips cara memilih asuransi yang banyak dikemukakan oleh para ahli perencana keuangan ternama.

  Seperti apa cara memilih asuransi yang sesuai dengan kebutuhan generasi milenial Indonesia? Baca sampai tuntas ya 4 tips memilih asuransi yang tepat dan terbaik menurut penulis :

1. Premi minimal, manfaat maksimal

  Premi asuransi yang terjangkau dan menghasilkan manfaat maksimal tentu saja menjadi primadona seperti pada hukum pasar. Dalam hal apapun, konsumen inginnya bayar murah dapat kualitas yang terbaik.

  Apalagi di zaman now ini kabarnya generasi milenial cenderung lebih banyak pengeluaran ketimbang income (pendapatan). Sehingga sempat ada yang memberitakan jika generasi milenial akan sulit memiliki rumah, kendaraan dan aset. Apakah benar?

  Menurut saya kesulitan generasi milenial, bahkan generasi sebelum dan sesudahnya, adalah soal gaya hidup masing-masing. Jika gaya hidup mewah tapi penghasilan UMR, tentu saja keuangan pasti tekor. Tapi jika penghasilan pengusaha sukses, namun pengeluaran UMR, ini baru untung.

  Oleh karena itu, pilih Sequis untuk solusi asuransi dengan premi minimal dan manfaat maksimal. Berkat Sequis, pengeluaran kita untuk proteksi diri akan lebih hemat tanpa mengurangi manfaat dari asuransi yang didapat.

Sequis menawarkan program proteksi diri dengan premi mulai dari Rp. 2.200 per hari. Wow, sangat terjangkau bukan!? Uang jajan anak SD saja sudah Rp. 5.000 - Rp. 10.000 per hari.


Sequis juga menawarkan produk-produk proteksi dengan nilai manfaat 100% - 125% - 150% sampai 3x lipat dari uang pertanggungan.



2. Kredibilitas perusahaan penyedia polis asuransi

  Kredibilitas sebuah perusahaan asuransi terbentuk dari rekam jejak yang terdiri dari sudah berapa lama berdiri, pengalaman melayani customer (nasabah), Sumber Daya Manusia (SDM) dan fasilitas sarana prasarana yang dimiliki.

Berpengalaman melayani nasabah asuransi selama lebih dari 35 tahun, Sequis telah memiliki reputasi tinggi dihati masyarakat Indonesia.


Sequis memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, teruji, berkompeten, berpengalaman dan profesional.

Sequis, Life Your Better Tomorrow
Nama Perusahaan
  1. PT Asuransi Jiwa Sequis Life
  2. PT Asuransi Jiwa Sequis Financial
  3. PT Sequis Aset Manajemen
Ijin Usaha
  1. Kep-106/KM.13/1992
  2. 572/KMK.017/1997
  3. Kep-2/D.04/2016
Terdaftar di
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
  • Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Berdiri 1984
Produk Sequis Life


Asuransi Jiwa
  1. Accident Protection Plus
  2. Asuransi Life Plan-100
  3. My Life Protection
  4. Protection Cash Back
  5. Protection Plus
  6. Q Smart Life
  7. Sequis Super Protector Insurance

Asuransi Pendidikan
  1. Eduplus
  2. Sequis Eduplan Insurance
  3. Sequis Global EduPlan Insurance
  4. Telepro Beasiswa Berjangkak

Perlindungan dengan Investasi
  1. Sequislinq Investor Plus
  2. Sequislinq New Investor
  3. Sequislinq Protector Plus
  4. Sequislinq Smart Investor
  5. Sequislinq Value Protector

Proteksi Penyakit Kritis
  1. My Critical Protection
  2. Sequis Family Income Dread Disease Rider Payor
  3. Sequis Family Income Dread Disease Rider Insured
  4. Sequis Payor Benefit Dread Disease Rider
  5. Sequis Q Early Payout Critical Illness Plus Rider
  6. Telepro Tanggap Prima

Asuransi Kesehatan & Rawat Inap
  1. Sequis Q Health Platinum Plus Rider
  2. Sequis Q Infinite Medcare Rider

Dana Pensiun
  • Asuransi Retirement Life Plan

Proteksi Kesehatan Wanita
  • Sequis Lady Protection Rider


Sequis Financial
Asuransi Jiwa
  1. Asuransi Cacat Tetap Total
  2. Asuransi Dana Q
  3. Asuransi Jiwa Berjangka Kumpulan
  4. Asuransi Sequis Dana Sejahtera
  5. Asuransi Sequis Eduplan
  6. Asuransi Tambahan Accident Death & Disability
  7. Financial Group Personal Accident
  8. Financial Smart Life
  9. Q Life Legacy
  10. Q Protection
  11. Sequis Severance Program

Asuransi Kesehatan
  1. Administrative Services Only
  2. Asuransi Kesehatan Kumpulan
  3. Asuransi Rawat Inap Kumpulan
  4. Asuransi Rawat Jalan Kumpulan
  5. Asuransi Tambahan Maternity
  6. Critical Illness
  7. Hospital Protection Plus
  8. Hybrid Group Health Protection


Sequis Asset Management
  1. Reksa Dana Sequis Equity Maxima
  2. Reksa Dana Sequis Equity Indonesia
  3. Reksa Dana Sequis Balance Ultima
  4. Reksa Dana Sequis Bond Optima
  5. Reksa Dana Sequis Liquid Prima
Penghargaan 2019

  • Top Life Insurance 2019
  • Contact Center Service Excellence Award 2019
  • Top 10 Most Trusted Insurance Companies
  • Indonesia Digital Innovation Award 2019
  • Unit Link Terbaik 2019


2018
  • Insurance Top Leader Award 2018
  • Top 20 Financial Institutions 2018
  • Top CEO Life Insurance 2018
  • Top Life Insurance 2018
  • Best Life Insurance 2018 pada Kelompok Ekuitas Rp. 2,5 Triliun ke Atas
  • Best in Financial Industry-Insurance di ajang Warta Ekonomi
  • Unit Link Award 2018 oleh Investor





3. Kemudahan pengajuan klaim dan pembayaran premi

  Kemudahan klaim adalah proses yang cepat dan praktis dalam memenuhi permintaan penanganan risiko yang terjadi. Kemudahan klaim juga mencakup tersebar luasnya fasilitas penunjang untuk penanganan segera seperti rumah sakit rekanan dan kantor cabang perusahaan.

Sejak 11 Januari 2016 Sequis telah memiliki fasilitas layanan e-Claim untuk kemudahan proses klaim yang responsif dan instan. Proses klaim e-Claim cukup melampirkan foto dokumen adminsitrasi melalui instan messenger seperti whatsapp, line dan e-mail.


Pembayaran premi sangat mudah karena bisa melalui transfer bank dan internet banking. Fasilitas kekinian ini sangat fleksibel (bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun) karena telah meninggalkan cara konvensional, yaitu membayar di teller kantor cabang/agen.


4. Dukungan Customer Service 24/7

  Pilih perusahaan asuransi yang concern dengan layanan bantuan konsumen 24 jam dalam 7 hari. Karena layanan bantuan ini sangat dibutuhkan oleh kita tatkala mengalami kendala sekecil apapun.

Pilih asuransi Sequis karena memiliki layanan contact center paling lengkap dengan pelayanan paling baik.



  Langsung saja ayo kepoin produk-produk Sequis di website https://www.sequis.co.id/ untuk berbagai layanan asuransi yang pas untuk kita. Sekarang, kita tidak akan salah pilih lagi soal asuransi, ada Sequis solusi asuransi yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan kita.